Kamis, 13 Desember 2012

Kritik, Mengungkap Kesalahan


(Harian Analisa)
Oleh : SAURMA. Anda pernah dikritik? Langsung atau tidak langsung? Lalu apa yang akan Anda lakukan saat kritikan itu sampai atau disampaikan pada Anda? Ada tiga sikap yang umumnya muncul, yaitu marah, membalas mengkritik atau merenung. Ketiganya itu ternyata tergantung kedewasaan cara berpikir kita.
Ada beberapa alasan yang mendasari sikap seseorang menghadapi sebuah kritikan. Termasuk sikap marah, balas mengkritik ataupun merenung. Alasan-alasan itulah yang menjadi pertimbangan melalui proses berpikir seseorang atas suatu kritikan.


MARAH

Pada orang yang marah saat dikritik, biasanya karena dirinya merasa bahwa apa yang menjadi bahan kritikan itu tidak tepat. Atau karena kritikan yang tidak jelas dan persoalan yang jadi bahan kritikan dianggap tidak pantas untuk dikritik karena tidak benar adanya. Orang ini bisa saja sangking emosinya mau langsung mencari si tukang kritik dan memarahinya.

Atau bisa jadi ia marah akibat merasa tersinggung karena menganggap orang yang mengkritik itu tidak pantas untuk mengkritiknya. Bisa jadi karena si tukang kritik tersebut mungkin tidak satu level dengannya. Atau kurang berpengalaman tetapi merasa lebih pintar dan mengkritiknya dengan cara menggurui dan tidak sopan. Orang yang marah ini bisa saja langsung menghardik si tukang kritik ini secara spontan.

Atau marah akibat dikritik dapat juga disebabkan hal-hal lain. Misalnya, merasa dipermalukan dengan kritikan yang dianggap sepertinya mengungkap kesalahan yang bukan hal prinsip, namun sengaja dibesar-besarkan. Kritikan itu diluncurkan, atas hal yang umum terjadi termasuk pada si tukang kritik ataupun orang lain, dalam artian kesalahan yang sangat tidak disengaja. Orang bisa marah karena melihat ada maksud terselubung dari kritikan yang dianggap tidak penting itu. Mungkin engan tujuan untuk menjatuhkan atau sengaja mempermalukan.

BALAS KRITIK

Ada juga, orang yang dikritik tidak marah dalam artian langsung menghampiri, menghardik atau spontan memarahi. Orang ini lebih memilih mencari kesalahan si tukang kritik, untuk menjelaskan bahwa kritikan pada dirinya itu belum ada apa-apanya dibanding yang harusnya diterima si tukang kritik.

Belum lagi jika ada kesempatan untuk menjelaskan posisi atau keberadaan si tukang kritik yang tidak punya pengalaman dan kapabilitas. Dengan cara balas mengkritik, maka orang ini merasa lebih puas. Sebab hal itu dianggap sebagai pembelaan diri yang paling tepat. Agar si tukang kritik atau calon tukang kritik lainnya berpikir ulang jika ingin memberikan kritikan lagi.

MERENUNG

Tapi ada pula orang yang dikritik malah terlihat tenang dan memilih berdiam diri serta mencermati bunyi kritikan yang diterimanya. Umumnya orang demikian ini adalah orang yang sadar dan membenarkan kritikan yang diberikan. Meskipun kesalahan yang menjadi bunyi kritikan itu bagi orang lain adalah hal sepele dan bisa saja dianggap tidak perlu untuk dikritik, namun orang ini tidak menjadi marah karenanya.

Kemarahannya lebih pada menyesali kesalahan yang dibuatnya, meskipun itu kesalahan kecil.Demikian pula pada kritikan yang sifatnya menjatuhkan dan direkayasa serta didramatisir seakan kesalahan fatal atau ingin membuatnya terlihat bodoh di hadapan orang lain, maka orang ini juga terlihat tenang. Ia lebih memilih memaknai sikap kritis yang ditujukan padanya. Karena itu, ia memandang hal tersebut tidak kasat mata, tetapi merenungi dan berpikir lebih jauh pada maksud dari kritikan itu.

Hasil perenungannya akan membawanya pada sikap lebih bijaksana, bahwa kesalahan kecil atau besar, ataupun bahkan bukan kesalahan, tetap saja akan menjadi bahan kritikan, ketika ada maksud tertentu di dalamnya. Karenanya, sikap diam dan merenungi bunyi kritikan dianggap lebih baik. Dan jauh lebih baik dari situ adalah untuk mewaspadai agar tidak mengulang kesalahan yang sama.

MUSUH

Lantas, sikap mana sebenarnya yang terbaik untuk dilakukan seseorang yang dikritik atau dianggap kritikannya tidak pantas? Apakah menganggap si tukang kritik itu adalah musuh? Atau justru menganggapnya sebagai sahabat jauh yang memperhatikan kita tanpa pamrih karena kita justru hampir tidak pernah memperhatikannya. Atau si tukang kritik itu justru adalah tempat kita untuk berterima kasih, karena diingatkan atas kesalahan, baik kecil maupun besar?

Bahkan orang bijak mengingatkan bahwa jika ingin mengetahui kelemahan kita, dengarlah komentar musuh kita. Terlebih apabila yang mengkritik adalah sahabat kita. Seorang sahabat yang baik tentu tidak akan membiarkan sahabatnya terperosok ke dalam kesalahan yang lebih dalam. Sehingga, kesalahan yang kecilpun tampak di depan mata disampaikan sebagai kritikan.

Memang, kadang penyampaian kritikan yang tidak tepat atau tidak sesuai seringkali justru membuat sebuah kritikan diabaikan atau mengundang kemarahan. Bahkan pola penyampaian kritik yang demikian justru sering dianggap hanya ingin menjatuhkan orang yang dikritiknya. Hal itu sangat mudah untuk dinilai, bahkan oleh orang-orang di luar si tukang kritik dan yang dikritiknya.

Bagi yang bermaksud sebagai sahabat tentu tidak akan mempermalukan orang yang dikritiknya tetapi justru meluruskan jalan sahabatnya dengan memberitahunya sebagai peringatan untuk tidak terulang. Tetapi bagi seorang musuh, kesalahan seseorang, bahkan sekecil apapun dapat menjadi jalan menjatuhkan orang yang dikritiknya. Namun apapun itu, belajar dari apa yang dikatakan orang bijak tadi, maka kita harus mendengarkan kritikan para musuh, apalagi sahabat kita. Dengan demikian, sepatutnyalah kita berterima kasih pada si tukang kritik. Bukan begitu?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar